Latest Entries »

Kampanye Bukan Ajang Ngibul

Tahapan Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) Provinsi Riau saat ini sedang memasuki tahapan kampanye. Lima pasangan calon kepala daerah yang sudah ditetapkan oleh KPU Riau pun harus bekerja keras menemui masyarakat di berbagai penjuru daerah. Targetnya hanya satu, meraih simpati yang sebesar-besarnya untuk kemudian dipilih pada hari pencoblosan.
Dalam teori komunikasi, kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Karena saat ini merupakan moment-nya pemilihan kepala daerah, maka sudah pasti kampanye yang sedang berlangsung saat ini adalah kampanye politik.
Kampanye politik sejatinya merupakan suatu ajang manuver politik untuk menarik sebanyak mungkin pemilih dalam pemilu sehingga bisa meraih kekuasaan. Untuk itu segala cara mungkin akan dipakai dari mulai pemberian janji-janji yang muluk sampai intimidasi dengan harapan bisa berkuasa.
Sebagai masyarakat, semestinya kita harus cerdas menyikapi janji-janji politik yang disampaikan oleh para kandidat. Untuk menilai apakah janji politik itu masuk akal dan bukan merupakan akal-akalan tipu-tipu politik belaka, maka setidaknya ada tiga parameter penilaian, yaitu: Pertama, apakah janji politik itu disampaikan oleh kandidat yang trackrecord-nya tidak pernah melakukan pembohongan politik. Apakah kandidat bersangkutan termasuk orang yang selama ini tidak pernah terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran hukum, norma atau etika? Apakah kandidat itu selama ini dikenal sebagai sosok yang agamis? Mereka yang track record-nye jelek, tentu patut diragukan janjinya.
Kedua, apakah janji program yang ditawarkan kandidat tersebut terkesan tidak dipaksakan, dengan sumber dana yang tidak jelas. Sifatnya masih rencana, belum lulus uji kepatutan, hanya menguras APBD, sehingga mengganggu keseimbangan anggaran, dan pada akhirnya mengorbankan mata anggaran penting lainnya.
Ketiga, jangan-jangan, janji gratis atau janji politik lainnya tersebut, hanya merupakan program yang menumpang dari proyek nasional yang sudah termaktub dalam APBN dan tinggal di cangkokkan dalam program politik yang akan direalisasikan ketika Paslon bersangkutan terpilih.
Kita juga berharap kalangan akademisi dan cendikiawan di daerah ini berani mengkritisi janji-janji politik para kandidat agar masyarakat semakin dicerahkan pemikirannya dalam menerima janji-janji politik tersebut.
Kita harus menyadai panggung politik kita sudah terlalu banyak dihiasi “tipu-tipu politik”. Jangan sampai kita ikut tertipu oleh janji-janji politik tersebut dan ujung-ujungnya, rakyat tinggal gigit jari. Semoga para kandidat kepala daerah di Riau yang saat ini sedang berkampanye benar-benar komit melaksanakan janjinya. Kalau tidak, jangan salahkan masyarakat akan benar-benar menganggap musim kampanye hanyalah musim ngibul para badut politik.***

Hutang

Di dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Kondisi perekonomian yang tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya, menjadikan hutang sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah keuangan.
Memang ada semacam pergeseran persepsi masyarakat masa lalu dengan masyarakat masa kini soal hutang. Dulu hutang dianggap sebagai perbuatan yang memalukan. Karena itu banyak yang biasanya sembunyi-sembunyi ketika meminta hutangan kepada orang lain. Tapi kini, hutang tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Karenanya, tak heran kini budaya berhutang semakin marak dalam kehidupan masyarakat.
Pergeseran sikap inilah yang menjadikan hutang justeru menjadi peluang bisnis. Ratusan perusahaan pembiayaan kini berdiri di republik ini menawarkan hutang kepada masyarakat. Ini belum termasuk pihak perbankan yang juga melayani jasa peminjaman. Kini semua barang dapat diperoleh dengan cara berhutang lewat perusahaan pembiayaan, dari mulai rumah, kendaraan, bahkan perabotan rumah tangga.
Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.
Orang-orang yang memberikan hutangan kepada orang yang membutuhkan malah mendapat apresiasi yang tinggi. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar.
Rasulullah pernah bersabda, “setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah)
Meskipun demikian, tetap saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, karena tak jarang orang yang berhutang sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.
Orang yang meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang, maka ia akan tetap membayarnya. Bukan berbentuk uang tapi diambil dari pahala dan kebaikannya selama hidup di dunia. Islam juga menempatkan orang yang sebenarnya mampu membayar hutang, tapi sengaja melalai-lalaikan membayarnya dalam kelompok orang yang zalim.
Jadi, meski hutang piutang dalam Islam diperbolehkan, namun kita tetap dituntut untuk bersikap sangat berhati-hati dalam berhutang. Kalau memang tidak sangat terpaksa lebih baik tidak berhutang. Apalagi kalau hanya sekadar untuk memiliki benda-benda konsumtif, atau sekadar meningkatkan status sosial di tengah masyarakat.
Kita mesti mampu mengukur bayang-bayang. Kalau memang kemampuan finansial tak memadai untuk membayar hutang, kan tak perlu memaksakan diri. Jangan sampai maksud hati hendak tampil gaya, apa daya harta yang ada jadi tersita. Ibarat kata orang Medan, sakitnya tak seberapa, tapi malunya ini…..****

Politik Selebritis

Sebagai seorang artis, nama Julia Perez memang cukup meroket. Dia memang bukan terkenal karena prestasinya sebagai artis yang brilian,sebab dia memang belum pernah meraih gelar bergengsi dalam ajang kompetisi keartisan seperti Piala Citra di bidang perfilman. Julia Perez terkenal karena ‘keberaniannya’ berdandan sexy dan aduhai. Wanita yang akrab dipanggil Jupe ini pun terkenal dengan gosip-gosipnya yang kontroversial.
Tapi begitulah dunia artis dan selebritis. Ada banyak cara menuju puncak. Ada yang bekerja keras dan bersikap profesional untuk meraih penghargaan dan pengakuan publik. Ada juga yang pakai jalur instant dengan mengeksploitasi hal-hal yang negatif pada dirinya. Dalam dunia hiburan, semua itu sah-sah saja.
Popularitas sesungguhnya bukan hanya milik dunia hiburan saja. Dalam panggung politik tanah air, popularitas juga jadi modal untuk melenggang menuju puncak. Sudah menjadi rahasia umum jika partai politik di negeri ini menempatkan popularitas sebagai syarat penting untuk mencalonkan seseorang tokoh maju di ajang Pilkada. Inilah konsekwensi logis dari model pemilihan langsung.
Fenomena ini pula yang agaknya membuat banyak artis dan selebritis mulai melebarkan sayap dari panggung hiburan ke panggung politik. Sejumlah artis dengan pe-de mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi calon kepala daerah, termasuklah si Jupe nan sexy itu.
Jupe jelas bukanlah pionir.  Sudah banyak artis yang merintis jalan ini dan terbukti sukses. Sebut saja nama Dede Yusuf, Rano Karno, atau pun Dicky Candra. Tak bisa dipungkiri bahwa faktor popularitas memang terbukti cukup ampuh untuk merayu rakyat.
Sebagai pengamat politik (ingat, cuma pengamat lho! bukan pakar), saya sebenarnya mendukung saja jika ada artis yang mau maju di gelanggang Pilkada. Mereka toh warga negara republik ini yang punya hak sama dengan profesi lain. Persoalannya, belakangan saya melihat fenomena ini kok ya makin gak sehat. Soalnya artis yang diusung mulai semakin nyeleneh. Sebut saja Ayu Azhari yang sempat digembar-gemborkan akan maju menjadi Wakil Bupati Sukabumi, lalu menyusul nama Julia Perez yang juga berminat jadi wakil Bupati Pacitan, dan terakhir yang tak kalah heboh adalah Maria Eva, sang bintang video mesum bersama mantan anggota DPR RI , yang juga dikabarkan mau maju di Pilkada Sidoarjo.
Gejala politik ini jelas menunjukkan semakin irasionalnya dunia politik kita. Pentas politik yang semestinya menjadi pertarungan orang-orang intelektual dan orang-orang yang memiliki kemampuan leadership kini telah berubah wujud menjadi pentas selebritas dan ajang ngetop-ngetopan belaka. Jangan-jangan kondisi ini menjadi indikasi bahwa masyarakat kita memang sudah skeptis dengan para politisi di negeri ini yang ternyata tak kunjung mampu melepaskan negara ini dari belenggu kemiskinan dan ketertinggalannya.
Nampaknya para politisi dan para kader partai di Indonesia memang perlu melakukan intropeksi secara serius jika tidak ingin semakin ‘dilecehkan’ eksistensinya. Rakyat jelas sudah muak dengan model sandiwara yang tak bermutu yang kini banyak dipertontonkan para politisi dan pemimpin negri ini. Atau jangan-jangan memang sekalian saja kita luruskan pertukaran profesi ini dimana para politisi betul-betul jadi artis dan pemain sinetron, dan sebaliknya pemain sinetron betul-betul didaulat jadi para pemimpin. Hayo…siapa yang setuju??….

Apa jadinya jika sekelompok orang bertemu setelah terpisah hampir 20 tahun? Ah, tentunya sulit sekali untuk diucapkan dengan kata-kata. Pasti ada banyak rasa berkecamuk dalam dada. Senang, haru, lucu, bingung, takjub, bercampur jadi satu. Pertemuan yang istimewa ini pastilah tak mungkin dapat dilupakan begitu saja.

Ini jugalah yang pasti terjadi pada kita semua, alumni SMPN 2 tahun 1990, yang sabtu (28/2) lalu bertemu kembali setelah berpisah hampir 20 tahun. This is a great reunion!!! Semua pasti setuju. Betapa terharunya saat melihat dua orang sahabat yang dulu mungkin sebangku saat sekolah berteriak sambil berpelukan melepas kerinduan. Atau ada juga yang bingung saat disapa seseorang yang begitu hangat sementara kita sudah tak siapa orang tersebut. Dan betapa lucunya saat kita saling mengingat kenakalan dan kejahilan masa remaja ketika masih berseragam putih biru. Kita juga merasa takjub saat menyaksikan foto-foto jadul kita terpampang di layar dan menyaksikan telah banyak yang berubah pada diri kita.

Waktu memang terasa begitu cepat berlalu kawan. 20 tahun yang lalu kita mungkin hanyalah sekelompok anak remaja yang tak begitu memahami persoalan hidup. Pertemanan yang kita jalin pun hanyalah pertemanan biasa bagaimana layaknya orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan kesenangan. Beberapa dari kita mungkin juga mulai mengenal perasaan saling tertarik dengan lawan jenis. Namun itu tidak berlangsung lama karena kita kemudian sudah harus terpisah satu sama lain demi mencari jalannya sendiri-sendiri.

Waktu tiga tahun boleh jadi bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk menciptakan berbagai peristiwa yang layak untuk dikenang. Kita pernah tertawa bersama, terluka bersama, saling marah, bahkan sampai saling tinju. Semua itu menjadi bagian yang membentuk kedewasaan kita.

Semua inilah yang membuat pertemuan selama enam jam itu terasa sangat singkat. Rasanya kita perlu berhari-hari untuk mengurai kembali kisah-kisah lama itu. Namun keinginan itu tak mungkin dapat kita lakukan karena masih banyak tugas lain yang harus kita laksanakan.

Kita memang patut bersyukur karena masih dapat bertemu kembali dalam reuni kemarin. Kita juga patut berterima kasih kepada teman-teman yang begitu antusias mewujudkan mimpi kita untuk kembali bertemu dengan teman-teman lama. Sampai bertemu pada pertemuan selanjutnya, semoga sukses mengiringi kita semua.

Pekanbaru, 1 Maret 2010

Jangan Suap Kami Lagi…

Ada pemandangan yang berbeda saat melewati sebuah persimpangan jalan di kota bertuah ini. Sebuah pos polisi yang berada tepat di persimpangan jalan tampak dihiasi sebuah spanduk yang tidak terlalu besar. Meski demikian, kalimat yang tercantum di dalam spanduk itu cukup menarik perhatian saya.

“Anggota Lantas tidak menerima suap atau pungli dalam bentuk apapun”. Demikian bunyi kalimat dalam spanduk yang berukuran sekitar satu kali satu meter itu. Letak spanduk yang tepat di sisi kiri pintu masuk ke dalam pos polisi ini seakan mengingatkan siapa pun yang hendak ‘menyelesaikan secara damai’ persoalannya dengan pihak polantas agar mengurungkan niatnya tersebut. View full article »

Piala Dunia dan Nasib Sepakbola Kita

Demam Piala Dunia sejak beberapa bulan belakangan sudah mulai menggoyang dunia, termasuk tanah airku Indonesia. Beberapa stasiun televisi yang akan menayangkan siaran langsung Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan pun sudah gencar menampilkan iklan promo acara akbar ini. Bahkan, untuk lebih menyemarakkan pertandingan paling diminati masyarakat dunia ini, trofi Piala Dunia yang terbuat dari emas 18 karat pun mampir ke Jakarta.

Indonesia memang tergolong beruntung karena disambangi sang trofi. Maklum tak semua negara dapat kebagian jatah melihat langsung trofi yang pernah diangkat pemain-pemain legendaris dunia seperti Pele dan Maradona itu. Pada perhelatan Piala Dunia tahun 2010 kali ini, hanya ada 33 negara yang dikunjungi, termasuk Indonesia. Tak heran jika kehadiran trofi ini disambut langsung oleh Presiden SBY.

Harapannya sih, kehadiran trofi Piala Dunia ini dapat memotivasi anak-anak bangsa untuk mengangkat prestasi sepak bola di negeri ini. Harap maklum saudara-saudara, prestasi sepak bola tanah air kian hari memang kian menyedihkan. Jangankan dapat ikut berlaga pada babak final Piala Dunia, main di kawasan Asia Tenggara saja Timnas Indonesia sering jadi ayam sayur dihajar lawan-lawannya. View full article »

Infotainment, Jengkol, dan Selebritis

Apakah anda suka nonton tayangan  infotaintment di televisi? Sebagian dari anda mungkin mengatakan ya, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Itu sah-sah saja. Setiap orang punya selera yang berbeda-beda.

Saya sendiri sulit juga menjawab pertanyaan seperti ini. Pasalnya, saya sebenarnya tidak terlalu suka acara gosip-gosipan. Tapi sesekali saya lahap juga tayangan infotaintmen di televisi. Sebagai seorang pengajar di bidang komunikasi dan jurnalis, saya tentu tak ingin ketinggalan informasi di bidang apa pun, termasuk dunia selebritis. View full article »

Rebutan Peluang Jadi PNS

berkas_cpns“Gak ikut ngelamar PNS Sat?” Begitu bunyi sebuah pesan pendek kuterima dari seorang teman satu kampus dulu. Tanpa perlu pikir panjang langsung kujawab,” nggak bos, msh blm ada panggilan jiwa”.
Ya begitulah, menjelang musim penerimaan Pegawai Ngeri, eh Negeri Sipil alias PNS ini, kesibukan sudah mulai terasa di sejumlah instansi, seperti kantor kelurahan bagi yang mau ngurus KTP, di kantor Disnaker bagi yang ngurus Kartu Kuning, dan di kantor pos bagi yang mau beli materai, serta di rumah-rumah paranormal bagi yang mau menggunakan “jalur khusus”.
Menjadi pegawai negeri tampaknya memang menjadi impian banyak anak muda di negara bernama Republik Indonesia ini. Ini wajar saja mengingat jadi PNS di Indonesia merupakan profesi yang paling ‘Mak Nyos’. Bagaimana tidak enak? Gaji dijamin pemerintah, hampir tiap tahun ada kenaikan, trus ada pula gaji ke-13, ada pensiunnya lagi. Soal kerja juga gak berat-berat amat. Masih ada waktu untuk nongkrong di kedai kopi bagi bapak-bapak, atau jemput anak sekolah bagi ibu-ibu PNS. Urusan disiplin gampang diatur asal dekat dengan pimpinan. View full article »

Kalau ada yang nanya, perusahaan apa yang paling sering dimaki oleh orang Riau? Saya berani bertaruh jawabannya pasti PT PLN. Saya bahkan berani taruhan potong telinga. Setidaknya, saya dan beberapa tetangga di perumahan tempat saya tinggal termasuk yang melakukannya setiap kali perusahaan negara tersebut memadamkan aliran listrik. Demikian juga sanak kerabat dan rekan-rekan saya, mereka kerap mengucapkan berbagai kecaman atas tindakan PLN yang semena-mena memadamkan listrik.

Inilah susahnya kalau listrik pengelolaannya dimonopoli oleh sebuah perusahaan. PLN memang memiliki kekuasaan yang absolut terhadap listrik di negeri ini. Dan lagi-lagi kita harus mengakui ungkapan Lord Acton yang mengatakan bahwa, “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut pasti akan korup”. View full article »

Caleg Gila

Beberapa hari belakangan ini sejumlah media tampak rajin menyiarkan berita tentang persiapan sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menampung para calon anggota legislatif yang akan mengalami gangguan jiwa. Sejumlah RSJ di tanah air menyatakan sudah menyiapkan kamar khusus untuk merawat para caleg yang gagal meraih kursi legislatif.

Di RSJ Tampan Pekanbaru misalnya, kamar khusus seluas 8 X 10 meter dengan kapasitas daya tampung sebanyak 20 bed disiapkan untuk menanti para ‘tamu terhormat’ itu. Fasilitasnya juga agak berbeda dengan pasien lainnya, ibarat hotel, fasilitasnya tentu ala hotel berbintang, bukan kelas losmen atau wisma. View full article »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.