‘Public Enemy’ itu Bernama PLN
Kalau ada yang nanya, perusahaan apa yang paling sering dimaki oleh orang Riau? Saya berani bertaruh jawabannya pasti PT PLN. Saya bahkan berani taruhan potong telinga. Setidaknya, saya dan beberapa tetangga di perumahan tempat saya tinggal termasuk yang melakukannya setiap kali perusahaan negara tersebut memadamkan aliran listrik. Demikian juga sanak kerabat dan rekan-rekan saya, mereka kerap mengucapkan berbagai kecaman atas tindakan PLN yang semena-mena memadamkan listrik.
Inilah susahnya kalau listrik pengelolaannya dimonopoli oleh sebuah perusahaan. PLN memang memiliki kekuasaan yang absolut terhadap listrik di negeri ini. Dan lagi-lagi kita harus mengakui ungkapan Lord Acton yang mengatakan bahwa, “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut pasti akan korup”.
Nah, dengan ‘kekuasaannya’ yang absolut itulah, PLN tak mau ambil pusing dengan keluhan rakyat yang menderita akibat pemadaman listrik. PLN juga tak mau peduli dengan ratusan usaha yang menderita kerugian akibat terputusnya liran setrum tersebut. Padahal, tidak sedikit pengusaha kecil yang memulai usahanya dengan meminjam uang ke bank.
Manajemen PLN di Riau hanya peduli dengan sekelompok pejabat saja. Ketika para petinggi Partai Golkar berembug secara nasional di Riau, listrik dapat nyala 24 jam. Manajemen PLN mengerahkan segala daya dan upayanya untuk mengamankan Munas Golkar tetap terang benderang, walaupun sebagian elit parpol lebih suka main ‘gelap-gelapan’ saat melakukan lobby-lobby politik.
Munas usai, terang pun usai. PLN kembali membuat Pekanbaru gelap. Tak perlu repot-repot bertanya soal alasan, karena manajemen PLN sudah menyiapkan seribu alasan untuk disampaikan kepada pers. Yang pasti, pihak PLN kembali menyumbat telinganya dari sumpah serapah dan hujatan warga. Tak perlu takut, karena orang Riau sangat sabar dan biasa hidup menderita dan pemimpinnya juga gak peduli karena rumah mereka dijamin terang benderang. Para pejabat Riau juga gak perlu capek-capek mengipas-ngipas anak mereka yang merengek kepanasan seperti yang dilakukan ribuan warga di waktu malam.
Sebagai sebuah perusahaan, PLN pun benar-benar kapitalis sejati. Buktinya, sudahlah sesuka hati memadamkan listrik 6 sampai 12 jam sehari, tagihan listrik tetap saja tinggi. Padahal logikanya, jika pemakaian berkurang, maka pembayaran juga berkurang. Tapi memang dasar perusahaan ini menerapkan hukum drakula, maka mereka tetap menghisap habis darah mangsanya.
Nah, kalau kalian bertanya kepadaku perusahaan apa yang paling brengsek di muka bumi ini, maka akan kujawab dengan cepat, PLN! ya.. PLN. ***

October 15, 2009 at 10:17 am
Kebetulan saya tinggal di jl Diponegoro V yang tidak sering kena pemadaman. Jadi tidak terlalu terasa efek pemadaman ‘dahsyat’ PLN belakangan ini.
Namun mendengar cerita teman2 saat di kampus, atau saat mereka berlama-lama di rumah karena di rumahnya sedang mati lampu… jadi miris juga.
Teringat saat saya masih di Tembilahan. Pernah suatu ketika, listrik nyala 1 hari dan mati 1 hari. Benar-benar parah. Sudah seharusnya ada perubahan besar2an dalam tubuh PLN ini. Yang tidak lagi hanya mengejar untung semata….(T_T). Rasanya tidak ikhlas saat membayar banyak setiap bulan….:(
October 24, 2009 at 6:47 am
Emang enak tinggal di ring satu, sangat jaaaaaaaaaaaaaarang sekali mati lampu, padahal di ring satu rata-rata punya genset.
October 24, 2009 at 2:18 am
uh! bener, sat! perusahaan yang satu ini memang bisa masuk guinness record deh saking seringnya dihujat.
nah, kemarin aku juga menghujat PLN gara-gara listrik di rumahku mati sejak jam 7 pagi. sampe jam 12 siang listrik belum nyala juga. selama ini tasbi sih nggak pernah kena pemadaman listrik (entah kenapa begitu), jadi aku heran dan mengutuk juga.
sampe jam satu, belum juga nyala. akhirnya aku mikir, ini mungkin meteran yang balik. ternyata bener! hihi. padahal aku udah misuh-misuh sejak pagi. peace, PLN!
October 24, 2009 at 6:46 am
Gak apa-apa kok ngutukin PLN, karena memang pantas untuk dikutuk
November 3, 2009 at 7:42 am
hmm… bener juga..
saya dulu waktu tinggal di Medan juga demikian. memaki sepanjang hari jika listrik padam…
Saat di Bandung, mengutuki ibu2 PLN yang dengan suka ria berlibur ke Bandung.
tak taunya.. Allah punya rencana lain untuk saya. Sekarang, saya malah bekerja di perusahaan yang harusnya masuk Guiness Book ini karena hujatan dari masyarakat.
dan Subhanallah.. entah apa rencana Allah di balik ini semua, tepat sekali, saya masuk di Bidang teknik distribusi, dan Allahu Akbar, pekerjaan saya salah satunya mengatur jadwal pemadaman. T_T
miris… miris sekali hati saya…
Karma itu ternyata memang ada.
tapi, Allah sepertinya ingin menunjukkan ’sesuatu yang lain’ pada saya, dan menitipkan sebuah amanah pada saya dan teman2 generasi muda PLN lainnya.
Doakan, doakanlah kami generasi muda di PLN ini, tidak turut dalam lingkaran gelap itu.
Doakan, doakanlah lingkaran gelap itu lambat laun akan berhenti berputar, seiring berjalannya waktu…
Doakan, doakanlah hati-hati kami ini tetap pada komitmen awal untuk merubah PLN.
Kebetulan sekali, saya kini di Sumatera, dan Riau merupakan satu wilayah dengan sistem kelistrikan Sumbagteng, satu sistem dengan wilayah kerja saya.
dan… hingga hari ini.. saya masih sering menangis memikirkan beban yang menjadi tanggung jawab saya.. akan ditanyai apa saya nanti di akhirat tentang ini semua..
jika mundur… siapa dan kapan lagi semua ini akan berubah???
doakanlah kami tetap istiqomah dan bisa merubah semuanya.
Jika ada keluh kesah, caci maki, kesal yang tak tersalurkan.. salurkanlah kepada saya. InsyaAllah, media komunikasi ini semoga tidak berakhir di dunia maya.
walluhua’lam bishowab
mohon maaf jika terlalu banyak berkata.
Saya mewakili PLN memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat Indonesia selama ini.