Ponari dan Kebodohan yang Tak Kunjung Usai

Orang Indonesia makin aneh bin ajaib. Di zaman yang sudah serba cyber kayak sekarang ini, masih saja keranjingan urusan supranatural. Yang tambah bikin kita ngurut dada (bukan remas dada lho, apalagi dada janda sebelah rumah), gara-gara urusan serba gak jelas itu, orang rela menyabung nyawa.
Fenomena yang menyedihkan ini telah kita saksikan bersama dalam kasus Ponari, dukun cilik yang digembar-gemborkan oleh keluarganya, memiliki batu petir yang sakti mandraguna. Konon batu petir ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Akibatnya ribuan orang rela antri dan desak-desakan untuk dapat berobat dengan Ponari. Bahkan, akibat terlalu antusiasnya berdesakan, sempat terjadi korban tewas segala. Weleh…weleh.. Eduaaan tenan.
Soal ghaib dan mistis memang tak bisa dinafikan keberadaannya. Dalam perspektif Islam pun kita banyak berhadapan dengan persoalan yang ghaib-ghaib, termasuk keberadaan Allah, Malaikat, Surga, dan Neraka. Dalam sejarah kenabian pun banyak cerita tentang hal-hal yang supranatural, seperti mukzizat para nabi, dari yang anti api, bertahan hidup di dalam perut ikan, membelah lautan, sampai yang paling spektakuler kisah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW.
Meski masalah supranatural merupakan fenomena yang wajib kita terima, namun bukan berarti semua hal yang berbau supranatural harus kita yakini. Sebab jangan lupa, Syaitan yang merupakan musuh abadi umat manusia juga fenomena supranatural. Celakanya, Bung Syaitan ini juga diberi kemampuan oleh Allah untuk bermain-main di wilayah yang sulit dicerna oleh pikiran rasional.
Nah, hal ini lah yang patut kita waspadai. Jangan semua hal yang ghaib-ghaib kita anggap sebagai sesuatu yang harus kita percaya atau kita ikuti. Sebab Islam, meski mewajibkan umatnya percaya kepada hal-hal ghaib, tapi juga menganjurkan kita untuk lebih mengutamakan rasionalitas, khususnya dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial. Apa yang menjadi urusan di dunia, lebih baik dijalani dengan cara-cara yang rasional atau gabungan antara keduanya. Itu pun harus diperhatikan betul apakah urusan supranatural itu sesuai syariah atau malah mainannya Om Syaitan.
Dalam kasus mengobati penyakit, rasanya agama dengan tegas menyuruh kita untuk menggunakan cara-cara rasional (medis). Kemampuan manusia untuk mengembangkan ilmu kedokteran menjadi tanda-tanda yang jelas betapa kita harus mengatasi masalah penyakit ini dengan cara yang rasional. Kalaupun mau dipadu dengan cara supranatural, silahkan saja lewat zikir dan doa-doa kepada Allah secara langsung. Bukan minta tolong melalui batu petir, batu cincin, bahkan air kotoran yang mengalir dari WC nya keluarga Ponari (seperti yang dilakukan sejumlah ‘pasien’ sang dukun cilik).
Fenomena masyarakat kita yang begitu keranjingan berdukun ini nampaknya perlu mendapat perhatian serius dari para pemimpin dan alim ulama di negeri ini. Harus ada ‘action’ yang serius untuk mengembalikan umat kepada rasionalitas dan syariah. Apa tidak malu jika kelakuan orang Indonesia yang rela mati cuma gara-gara ingin mendapat pengobatan alternatif yang belum tentu kebenarannya terus menyebar ke seluruh penjuru bumi. Mau diletak di mana muka para pemimpin dan ulama. Atau jangan-jangan mereka memang sudah tak peduli atau mungkin terlalu sibuk ngurusi politik? Ah entahlah…

Explore posts in the same categories: 1

2 Comments on “Ponari dan Kebodohan yang Tak Kunjung Usai”

  1. bonoriau Says:

    Mas, Orang kita kan memang aneh-aneh.


Comment: