Kenaikan BBM, BLT, dan Kebohongan Pemerintah

Pemerintah tampaknya tak pernah mau belajar dari pengalaman. Maunya cari jalan pintas, tak peduli dampak negatif yang muncul akibat kebijakan itu. Contohnya adalah program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Program ini jelas-jelas telah banyak menimbulkan masalah, tapi tetap juga dilakukan kembali sebagai upaya meredakan ‘amarah’ rakyat terhadap kebijakan kenaikan harga BBM.
Entah siapa yang mula-mula mengusulkan program ‘gila’ ini. Semoga dia diberikan kesadaran bahwa program ini lebih banyak merusaknya daripada manfaatnya. Yang jelas si pengusul program ini tahu benar bahwa masyarakat kita memang sangat sengsara sehingga gampang dialihkan perhatiannya hanya karena iming-iming duit seratus hingga tiga ratus ribu perak.
Ini memang terbukti. Pada tahun 2005 masyarakat akhirnya sibuk ‘mengurus’ pencairan dana BLT, sibuk kelahi dengan sesama warga atau dengan aparat desa karena tak kebagian dana BLT. Masyarakat malah lupa bahwa pangkal masalahnya bukan soal kebagian atau tak kebagian BLT, melainkan harga BBM yang dinaikkan oleh pemerintah.
Para pemimpin bangsa ini pun pandai menipu rakyat dengan data-data yang tidak akurat. Mereka bilang harga BBM kita masih tergolong murah, sebab di Jepang dan Amerika harga bensin sudah sekitar Rp8.000-an per liter. Tapi pemerintah gak berani bilang bahwa pendapatan perkapita dua negara ini berkali-kali lipat dari masyarakat negara ini. Jadi wajar saja kalau orang Amerika atau Jepang tak keberatan dengan harga bensin segitu karena penghasilan mereka juga besar.
Pemerintah juga berkoar-koar bahwa yang menikmati subsisi BBM adalah orang-orang kaya. Padahal realitanya, sebagian masyarakat miskin sangat bergantung pada BBM, dari mulai tukang ojek, pengemudi oplet,nelayan, home industri dan sebangsanya. Kalau memang mau ‘menghukum’ orang kaya yang boros ya naikkan saja pajak rumah mewah mereka, juga pajak mobil mewah, serta usut setiap asal usul kekayan para pejabat dan konglomerat.
Wuiiiih, rasanya kesal betul mendengar bualan para pejabat di negeri ini. Mereka memang tak pernah benar-benar peduli dengan rakyat. Mereka tak peduli dengan korban-korban yang berjatuhan akibat program BLT. Berikut ini beberapa korban BLT yang sempat tercatat media di Indonesia, yang tidak tercatat diyakini masih sangat banyak.

 

* Muara Bungo, Jambi

Saman (52), Ketua Rukun Tetangga di Dusun Benit, Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, tewas akibat ditikam warganya, Hendri alias Bujang (24), Jumat (21/10/2005) .Peristiwa pembunuhan tersebut terkait kartu kompensasi BBM (KKB) dan pembagian dana BLT untuk keluarga miskin.

* Depok, Jabar

Gara-gara stres didesak warganya yang tidak mendapatkan BLT, Nur Hasan (50), Ketua RT 02/08 Kelurahan Pancoran Mas, Depok, tewas menyedihkan akibat meminum cairan racun serangga, 21 Oktober 2005. Hasan menempuh jalan pintas dengan menenggak racun serangga. Warga yang tidak mendapat kartu mengira Hasan yang memainkan. Padahal, Hasan sudah menjelaskan bahwa kewenangannya hanya membagi.

* Karanganyer, Jateng

Seorang nenek, Kasipah (80), tewas karena keletihan antre di kantor Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Senin (17/10/2005) . Ia ini meninggal dalam perjalanan ke puskesmas setelah ambruk saat berdesak-desakan bersama ratusan warga. Sebelum meninggal korban sempat pingsan beberapa lama di tengah kerumunan warga.

* Demak, Jateng

Wadiman (70), warga Dukuh Kracek, Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Demak, Jawa Tengah, yang antre sejak pagi, tiba-tiba ambruk di depan Kantor PT Pos Indonesia Dempet, Jumat (14/10/2005). Warga membawa korban ke puskesmas terdekat tapi nyawanya tidak tertolong.

* Palembang, Sumsel

Ratusan warga antre untuk mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sejak pagi hari, padahal BLT baru mulai dibagikan pukul 13.00 WIB, di Kantor Pos Sako dan Kantor Pos Besar Jalan Merdeka, Palembang, Sumsel, Selasa (3/1/2006). Tiga orang pingsan.

* Banjarnerga, Jateng

Tarsono (84), warga Banjarnegera, Jawa Tengah, meninggal setelah pulang mencairkan dana BBM, Sabtu (15/10/2005) * Banyuwangi, Jatim

Petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Beni Kushariawan, Senin (17/10/2005) , nyaris menjadi korban amuk massa. Massa marah karena dianggap berbelit-belit ketika memberikan penjelasan kepada warga miskin yang tidak mendapat bantuan langsung tunai (BLT).

* Banyuwangi, Jatim

Nenek Warinem (84), warga Genteng Wetan, Banyuwangi, Jawa Timur, meninggal saat antre bantuan langsung tunai (BLT), Jumat (14/10/2005) . Warinem bersama 1.400 warga antre dana BBM di kantor camat Genteng, Banyuwangi. Tiba-tiba, nenek itu pusing dan meminta Jami’iyah, tetangga yang mengantar, membawanya keluar antrean. Baru beberapa menit istirahat, ia pingsan dan meninggal.

*Yogyakarta

Daliyem Kirno (75), seorang janda miskin di Bangunrejo, Rt53/Rw12 Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Karena tidak mendapat BLT, Daliyem menghakiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Sebelum meninggal korban sempat mengeluh dan menceritakan bahwa ia nekat terjun ke sungai karena merasa mendapat perlakuan tidak adil karena tidak mendapat dana KKB BLT. Sebelumnya, telah jatuh beberapa korban dengan penyebab karena tak kuat berdesak-desakan di tengah ratusan bahkan ribuan pengantre.

* Bojonegoro, Jatim

Saining (66), warga Bojonegoro Jawa Timur yang sampai koma setelah mengantre di kantor kecamatan.(*)

Explore posts in the same categories: sudut pandang

One Comment on “Kenaikan BBM, BLT, dan Kebohongan Pemerintah”

  1. Bri Says:

    BLT?? saya rasa ini konyol, kayak tukang obat yang nyebarin penyakit, lalu ngejual obat penawarnya (eh bukan ngejual ding, memberi… biar dikira pahlawan, oh kacau!!!).


Comment: