Selamat Bergabung Wahai Orang Miskin Baru (OMB)! Kata-kata ini agaknya bakal menyambut kurang lebih 5 juta orang yang menjadi ‘korban’ kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Sebuah kebijakan yang akan berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin di negeri ini.
Berdasarkan prediksi Tim Indonesia Bangkit, rencana pemerintah menaikkan harga BBM hingga 30 persen akan mengakibatkan jumlah penduduk miskin di Indonesia naik dari 37,1 juta penduduk menjadi 41,5 juta penduduk. Sedangkan pada kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mencapai lebih 100 %, kenaikan jumlah penduduk miskin mencapai 8 juta orang.
Jumlah penduduk miskin yang mencapai 41,5 juta orang ini jelas merupakan kenyataan pahit. Jumlah ini menunjukkan bahwa hampir seperempat penduduk Indonesia kini hidup morat-marit. Ironisnya, sebagian kecil penduduk Indonesia yang didominasi penguasa dan pengusaha justru semakin bermandikan harta.
Kita tidak menyangkal bahwa kondisi perekonomian dunia sedang dalam kondisi yang remuk redam. Kenaikan harga minyak dunia melewati batas normal telah membuat pusing pemerintah negara di dunia ini. Namun menempuh jalan keluar dengan menaikkan harga minyak domestik bukanlah solusi yang jitu.
Rencana kenaikan harga BBM merupakan sebuah kebijakan panik dan sangat tidak adil karena membebankan masyarakat kecil. Kenaikan BBM merupakan cermin ketidakmampuan tim ekonomi pemerintah merespon tekanan harga minyak mentah dunia. Padahal ada beberapa kebijakan lain yang bisa ditempuh selain menaikkan BBM, diantara pemerintah bisa melakukan penundaan pembayaran utang, peningkatan produksi minyak, dan pemberantasan mafia migas.
Pengalaman juga menunjukkan bahwa janji pemerintah untuk ‘menyelamatkan’ masyarakat kecil dari dampak kenaikkan harga BBM tak pernah terealisasi dengan baik. Program Jaring Pengaman Sosial atau Bantuan Langsung Tunai misalnya, kerap jadi masalah dalam penerapannnya. Aparat pemerintah di tingkat bahwa malah mengambil kesempatan untuk ikut menikmati bantuan yang harusnya dinikmati rakyat miskin. Di sisi lain, masyarakat miskin ‘terpaksa’ berebut dan malah terlibat adu jotos gara-gara mencairkan uang yang hanya beberapa ratus ribu rupiah. Maka, alih-alih membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga BBM, program-program yang dibuat pemerintah justru semakin merusak mental dan moral masyarakat.
Kalau masih bisa berharap, kita tentu sangat mengharapkan pemerintah mengkaji secara matang rencana kenaikan harga BBM ini. Kalaupun memang sangat, sangat, sangat terpaksa, tolonglah rancang program antisipasi dampak kenaikan BBM yang baik dan bermanfaat secara ekonomis dan spritual bagi rakyat.