Yuk Menghemat Listrik
Kenaikan harga Minyak dunia menimbulkan pengaruh yang sangat berat bagi berbagai sektor di tanah air. Salah satu institusi yang sekarang ini cukup pusing dengan kenaikan harga minyak dunia adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN). Maklum, sebagian besar pembangkit listrik milik PLN memang mengandalkan bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi ini membuat PLN melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi krisis listrik yang semakin mengkhawatirkan. Upaya yang kini dilakukan PLN adalah menerapkan sisten insentif dan disinsentif bagi para pelanggannya. Jika pelanggan PLN mampu berhemat dalam penggunaan listrik maka dia bakal dapat diskon atau potongan harga. Sebaliknya, kalau pemakaian boros, maka dia bakal kena sanksi berupa denda. PLN meyakini dengan sistem ini, akan terjadi penghematan penggunaan arus listrik yang cukup signifikan.
Meski mendapat pro dan kontra, kebijakan PLN ini sebenarnya cukup baik untuk diterapkan. Tentu saja dengan catatan dalam pelaksanaannya PLN harus benar-benar serius dan profesional. Dengan kata lain, PLN harus melakukan penghitungan pemakaian daya dengan transparan. Para petugas pencatat meteran juga harus bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak seperti yang kebanyakan dilakukan selama ini dengan sistem ‘tebak-tebak buah manggis’ alias hanya melakukan perkiraan saja tanpa melihat secara benar meteran pelanggan.
Selain itu, persoalan pencurian listrik juga harus mendapat pengawasan yang ketat. Tidak ada pilih kasih lagi bagi orang-orangĀ atau instansi tertentu yang melakukan pencurian listrik. Biar di lembaga pemerintah, maupun institusi penegak hukum, sama-sama harus diberi sanksi jika ketahuan mencuri arus.
Di sisi lain, sebagai masyarakat kita juga harus berupaya melakukan penghematan listrik. Memang hal ini tidak mudah. Apalagi seiring dengan kemajuan zaman, semua aktivitas kehidupan sehari-hari kita berhubungan dengan listrik. Dulu kita masak nasi pakai kompor, sekarang sudah pakai rice cooker dan magic jar. DUlu kalau mau minum kita masak air dulu, sekarang tinggal pencet dispenser.
Banyaknya barang elektronik ini berbanding lurus dengan permintaan daya listrik. Ini terlihat dari tingginya permintaan daya listrik saat beban puncak. Padahal, jumlah daya yang tersedia terbatas. Akibatnya, pemadaman sering dilakukan. Imbasnya, citra PLN kurang professional semakin lekat.
Bagi masyarakat, barang elektronik tersebut berimbas pada pembengkakan penggunaan daya listrik. Padahal, akibat krisis BBM, kebutuhan lain turut naik. Hal ini tak diimbangi dengan pemasukan. Akibatnya, berbagai upaya dilakukan. Mulai dari manipulasi meteran listrik hingga benar-benar mencuri arus. Jika tidak berani dan belum tahu cara memanipulasi, dengan mudah, masyarakat bisa mendatangkan jasa manipulator.
Sikap-sikap seperti ini sudah saatnya kita tinggalkan. Kita harus menyadari bahwa menghemat listrik merupakan langkah bijak menyelamatkan dunia dari krisis energi. Dan bagi keluarga kita, menghemat listrik berarti menghemat pengeluaran belanja. Bukankah penghematan seribu rupiah saja sangat berarti di saat semua kebutuhan pokok melonjak naik?***
