Bencana di Awal Ramadhan
Ramadhan tahun ini diawali dengan serangkaian peristiwa gempa bumi yang cukup kuat melanda tiga provinsi. Gempa pertama terjadi Rabu sore (12/9) di wilayah Bengkulu. Gempa kedua terjadi di Jambi, Kamis pagi (13/9) sekira jam 06.30, disusul gempa di wilayah Sumatera Barat beberapa jam kemudian.
Gempa yang berlangsung sepanjang Rabu dan Kamis kemarin untuk sementara telah menelan 14 korban jiwa. Puluhan luka berat dan ringan, serta ratusan rumah dan fasilitas publik rusak. Gempa telah meninggalkan nestapa yang mendalam bagi mereka yang kehilangan sanak keluarga maupun harta benda. Ribuan orang kini terpaksa menjalani hari-hari di bulan Ramadhan di tenda-tenda pengungsian.
Bencana adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Sebagai sang pencipta, Allah memang berkuasa dan berkehendak menurunkan bencana. Entah sebagai cobaan atau sebagai azab. Sebagai manusia kita tentu tak punya kuasa untuk menolaknya atau menundanya. Jika memang hari ini akan terjadi, maka pasti terjadi.
Dalam ajaran agama, bencana memang bisa dipandang sebagai cobaan atau azab. Cobaan biasanya terjadi terhadap orang-orang yang beriman dan sedang diuji keimanannya. Sedangkan azab berarti teguran atau hukuman kepada hamba yang selama ini lupa akan tugas dan kewajibannya. Soal bencana gempa yang diturunkan Allah di awal Ramadhan ini, apakah sebagai cobaan atau azab, biarlah masing-masing kita yang mengalami menilainya. Kita yang selamat atau tidak mengalaminya tak perlu repot menduga-duga apakah bencana itu cobaan atau azab. Yang jelas kedua-duanya merupakan sarana bagi kita untuk meningkatkan keimanan atau ketakwaan.
Bagi kita yang tidak menjadi korban, musibah gempa yang terjadi kemarin bisa jadi merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita agar bisa berbuat kebajikan lebih banyak dari biasanya. Yakni dengan menyalurkan bantuan sebanyak-banyaknya bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah gempa tersebut. Bukankah salah satu hikmah Ramadhan adalah keikhlasan untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berbagi kenikmatan dengan mereka yang tidak merasakannya?
Di luar konteks spiritual dan religius, gempa bumi yang belakangan sering terjadi di tanah air menunjukkan bahwa negeri ini memang sangat rawan dengan bencana. Di luar gempa, kita juga kerap dihampiri banjir, tanah longsor, ataupun kebakaran hutan. Bencana alam yang terjadi selama ini tak dapat dipungkiri sangat erat kaitannya dengan kondisi alam yang semakin kritis. Hutan-hutan yang terus digunduli demi industrialisasi, penambangan yang dilakukan secara sembarangan, pembukaan dan pengalihfungsian lahan tanpa terkendali, merupakan bentuk-bentuk penghianatan kita kepada alam semesta yang pada akhirnya menyebabkan bumi rentan mengalami bencana.
Mudah-mudahan aja bencana yang terjadi di awal Ramadhan tahun ini bisa membuka mata bathin kita sehingga bisa melihat dengan jelas betapa terlalu banyak kerusakan yang telah kita buat di muka bumi. Dan semoga, Ramadhan kali ini kita bisa lebih saling berbagi dan menjaga kelestarian bumi ini.
September 13, 2009 at 8:56 am
ALLAHUAKBAR..
TAKZIAH BUAT MANGSA-MANGSA GEMPA BUMI..
SEMOGA ANDA DIBERIKAN KETABAHAN BAGI MENGHADAPI DUGAAN-NYA..
October 5, 2009 at 8:58 am
semoga dg adanya musibah ini, dapat menjadi koreksi dan renovasi diri bangsa indonesia. bagi para korban, semoga senantiasa diberi ksabaran dan ktabahan..