Kisah Bocah Cerdas di Lapas Tangerang

 0-prison.jpg

Konon, manusia tidak akan pernah mendapatkan keadilan yang haikiki di dunia ini. Seringkali, mereka    yang jahat selalu bisa lolos dari jeratan hukum, sementara yang berbuat kejahatan karena dipaksa oleh keadaan, dengan mudah ditebas oleh pedang hukum.
Karena itu ada yang memberi nasihat,” jangan pernah jadi maling ayam, karena paling gampang ditangkap dan digebukin orang sekampung, jadilah koruptor atau mafia sekalian, karena orang-orang seperti itu tak mudah disentuh hukum”.
Berikut ini ada sebuah cerita yang dikirimkan oleh seorang teman bernama Raja Iqbal ke email saya terkait soal hukum dan keadilan. Kisahnya tentang seorang bocah cerdas yang harus merasakan pahitnya hidup di balik penjara karena membalas dendam kematian orangtua yang dibunuh preman.
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.


Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan. Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah  di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. “siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman  yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.
“Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum.

Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib. Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok.

Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif. Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan,  pulang!


 Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
“Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif,”  tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan

Explore posts in the same categories: sudut pandang

6 Comments on “Kisah Bocah Cerdas di Lapas Tangerang”

  1. dewacint4 Says:

    Tragis
    mengharukan

    Kapan si Arif bisa menghidup udara bebas dan bersama Ibunya lagi yah ¿

    dc

  2. gerry Says:

    membunuh harus masuk penjara, masalahnya cuma tertangkap atau tidak aja. Soal adil, rasanya adil kok pembunuh masuk penjara. Cuma buat juvenile crime, seharusnya da perlakuan khusus, seperti pembinaan dan pengarahan. Apad di Indonesia ada ya yg seperti itu?

  3. jeffry Says:

    Polisi lebih seneng duwit ketimbang anak pinter yg kebetulan juga bukan anak sendiri……….itulah manusia.

  4. karinahayuti Says:

    bener2 mengharukan sekali, seoragng anak yg pinter dan cerdas harus mendekam di penjara.sedangkan pembunuh bapaknya tdk mendekam di penjara.adilkah itu???

  5. pamangober Says:

    Sumbernya dari mana. gak jelas = HOAX.

  6. winda Says:

    kisah arif tersebur cukup membawa keharuan bagi saya sendiri. saya juga pernah ke lapas tangerang bersama dengan teman-teman saya dan saya sangat mendapat banyak sekali pembelajaran yang berharga. kisah arif tersebut memang pantas dipublikasikan untuk membuktikan bahwa tingkat keadilan hukum di indonesia masih minim dan kisah ini dapat menjadi pelajaran bahwa kita harus memikirkan terlebh dahulu apa yang akan kita lakukan,karena dampaknya akan kita sendiri yang merasakan. nywa janganlah dibayar dengan nyawa juga karena hal itu tidak dapat memecahkan masalah. saya bersekolah di sman 91 jakarta timur kelas 2 sma dan saya ingin sekali berkunjung ke lapas itu lagi. tapi apakah saya boleh masuk? tolong balas ke email saya ya. thanks..


Comment: