RSS

Politik Selebritis

Sebagai seorang artis, nama Julia Perez memang cukup meroket. Dia memang bukan terkenal karena prestasinya sebagai artis yang brilian,sebab dia memang belum pernah meraih gelar bergengsi dalam ajang kompetisi keartisan seperti Piala Citra di bidang perfilman. Julia Perez terkenal karena ‘keberaniannya’ berdandan sexy dan aduhai. Wanita yang akrab dipanggil Jupe ini pun terkenal dengan gosip-gosipnya yang kontroversial.
Tapi begitulah dunia artis dan selebritis. Ada banyak cara menuju puncak. Ada yang bekerja keras dan bersikap profesional untuk meraih penghargaan dan pengakuan publik. Ada juga yang pakai jalur instant dengan mengeksploitasi hal-hal yang negatif pada dirinya. Dalam dunia hiburan, semua itu sah-sah saja.
Popularitas sesungguhnya bukan hanya milik dunia hiburan saja. Dalam panggung politik tanah air, popularitas juga jadi modal untuk melenggang menuju puncak. Sudah menjadi rahasia umum jika partai politik di negeri ini menempatkan popularitas sebagai syarat penting untuk mencalonkan seseorang tokoh maju di ajang Pilkada. Inilah konsekwensi logis dari model pemilihan langsung.
Fenomena ini pula yang agaknya membuat banyak artis dan selebritis mulai melebarkan sayap dari panggung hiburan ke panggung politik. Sejumlah artis dengan pe-de mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi calon kepala daerah, termasuklah si Jupe nan sexy itu.
Jupe jelas bukanlah pionir.  Sudah banyak artis yang merintis jalan ini dan terbukti sukses. Sebut saja nama Dede Yusuf, Rano Karno, atau pun Dicky Candra. Tak bisa dipungkiri bahwa faktor popularitas memang terbukti cukup ampuh untuk merayu rakyat.
Sebagai pengamat politik (ingat, cuma pengamat lho! bukan pakar), saya sebenarnya mendukung saja jika ada artis yang mau maju di gelanggang Pilkada. Mereka toh warga negara republik ini yang punya hak sama dengan profesi lain. Persoalannya, belakangan saya melihat fenomena ini kok ya makin gak sehat. Soalnya artis yang diusung mulai semakin nyeleneh. Sebut saja Ayu Azhari yang sempat digembar-gemborkan akan maju menjadi Wakil Bupati Sukabumi, lalu menyusul nama Julia Perez yang juga berminat jadi wakil Bupati Pacitan, dan terakhir yang tak kalah heboh adalah Maria Eva, sang bintang video mesum bersama mantan anggota DPR RI , yang juga dikabarkan mau maju di Pilkada Sidoarjo.
Gejala politik ini jelas menunjukkan semakin irasionalnya dunia politik kita. Pentas politik yang semestinya menjadi pertarungan orang-orang intelektual dan orang-orang yang memiliki kemampuan leadership kini telah berubah wujud menjadi pentas selebritas dan ajang ngetop-ngetopan belaka. Jangan-jangan kondisi ini menjadi indikasi bahwa masyarakat kita memang sudah skeptis dengan para politisi di negeri ini yang ternyata tak kunjung mampu melepaskan negara ini dari belenggu kemiskinan dan ketertinggalannya.
Nampaknya para politisi dan para kader partai di Indonesia memang perlu melakukan intropeksi secara serius jika tidak ingin semakin ‘dilecehkan’ eksistensinya. Rakyat jelas sudah muak dengan model sandiwara yang tak bermutu yang kini banyak dipertontonkan para politisi dan pemimpin negri ini. Atau jangan-jangan memang sekalian saja kita luruskan pertukaran profesi ini dimana para politisi betul-betul jadi artis dan pemain sinetron, dan sebaliknya pemain sinetron betul-betul didaulat jadi para pemimpin. Hayo…siapa yang setuju??….

 
Leave a comment

Posted by on April 13, 2010 in 1

 

It’s a Great Reunion, sebuah catatan pinggir

Apa jadinya jika sekelompok orang bertemu setelah terpisah hampir 20 tahun? Ah, tentunya sulit sekali untuk diucapkan dengan kata-kata. Pasti ada banyak rasa berkecamuk dalam dada. Senang, haru, lucu, bingung, takjub, bercampur jadi satu. Pertemuan yang istimewa ini pastilah tak mungkin dapat dilupakan begitu saja.

Ini jugalah yang pasti terjadi pada kita semua, alumni SMPN 2 tahun 1990, yang sabtu (28/2) lalu bertemu kembali setelah berpisah hampir 20 tahun. This is a great reunion!!! Semua pasti setuju. Betapa terharunya saat melihat dua orang sahabat yang dulu mungkin sebangku saat sekolah berteriak sambil berpelukan melepas kerinduan. Atau ada juga yang bingung saat disapa seseorang yang begitu hangat sementara kita sudah tak siapa orang tersebut. Dan betapa lucunya saat kita saling mengingat kenakalan dan kejahilan masa remaja ketika masih berseragam putih biru. Kita juga merasa takjub saat menyaksikan foto-foto jadul kita terpampang di layar dan menyaksikan telah banyak yang berubah pada diri kita.

Waktu memang terasa begitu cepat berlalu kawan. 20 tahun yang lalu kita mungkin hanyalah sekelompok anak remaja yang tak begitu memahami persoalan hidup. Pertemanan yang kita jalin pun hanyalah pertemanan biasa bagaimana layaknya orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan kesenangan. Beberapa dari kita mungkin juga mulai mengenal perasaan saling tertarik dengan lawan jenis. Namun itu tidak berlangsung lama karena kita kemudian sudah harus terpisah satu sama lain demi mencari jalannya sendiri-sendiri.

Waktu tiga tahun boleh jadi bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk menciptakan berbagai peristiwa yang layak untuk dikenang. Kita pernah tertawa bersama, terluka bersama, saling marah, bahkan sampai saling tinju. Semua itu menjadi bagian yang membentuk kedewasaan kita.

Semua inilah yang membuat pertemuan selama enam jam itu terasa sangat singkat. Rasanya kita perlu berhari-hari untuk mengurai kembali kisah-kisah lama itu. Namun keinginan itu tak mungkin dapat kita lakukan karena masih banyak tugas lain yang harus kita laksanakan.

Kita memang patut bersyukur karena masih dapat bertemu kembali dalam reuni kemarin. Kita juga patut berterima kasih kepada teman-teman yang begitu antusias mewujudkan mimpi kita untuk kembali bertemu dengan teman-teman lama. Sampai bertemu pada pertemuan selanjutnya, semoga sukses mengiringi kita semua.

Pekanbaru, 1 Maret 2010

 
1 Comment

Posted by on March 7, 2010 in humaniora

 

Jangan Suap Kami Lagi…

Ada pemandangan yang berbeda saat melewati sebuah persimpangan jalan di kota bertuah ini. Sebuah pos polisi yang berada tepat di persimpangan jalan tampak dihiasi sebuah spanduk yang tidak terlalu besar. Meski demikian, kalimat yang tercantum di dalam spanduk itu cukup menarik perhatian saya.

“Anggota Lantas tidak menerima suap atau pungli dalam bentuk apapun”. Demikian bunyi kalimat dalam spanduk yang berukuran sekitar satu kali satu meter itu. Letak spanduk yang tepat di sisi kiri pintu masuk ke dalam pos polisi ini seakan mengingatkan siapa pun yang hendak ‘menyelesaikan secara damai’ persoalannya dengan pihak polantas agar mengurungkan niatnya tersebut. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on January 29, 2010 in sudut pandang

 

Tags: ,

Piala Dunia dan Nasib Sepakbola Kita

Demam Piala Dunia sejak beberapa bulan belakangan sudah mulai menggoyang dunia, termasuk tanah airku Indonesia. Beberapa stasiun televisi yang akan menayangkan siaran langsung Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan pun sudah gencar menampilkan iklan promo acara akbar ini. Bahkan, untuk lebih menyemarakkan pertandingan paling diminati masyarakat dunia ini, trofi Piala Dunia yang terbuat dari emas 18 karat pun mampir ke Jakarta.

Indonesia memang tergolong beruntung karena disambangi sang trofi. Maklum tak semua negara dapat kebagian jatah melihat langsung trofi yang pernah diangkat pemain-pemain legendaris dunia seperti Pele dan Maradona itu. Pada perhelatan Piala Dunia tahun 2010 kali ini, hanya ada 33 negara yang dikunjungi, termasuk Indonesia. Tak heran jika kehadiran trofi ini disambut langsung oleh Presiden SBY.

Harapannya sih, kehadiran trofi Piala Dunia ini dapat memotivasi anak-anak bangsa untuk mengangkat prestasi sepak bola di negeri ini. Harap maklum saudara-saudara, prestasi sepak bola tanah air kian hari memang kian menyedihkan. Jangankan dapat ikut berlaga pada babak final Piala Dunia, main di kawasan Asia Tenggara saja Timnas Indonesia sering jadi ayam sayur dihajar lawan-lawannya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2010 in 1

 

Tags: ,

Infotainment, Jengkol, dan Selebritis

Apakah anda suka nonton tayangan  infotaintment di televisi? Sebagian dari anda mungkin mengatakan ya, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Itu sah-sah saja. Setiap orang punya selera yang berbeda-beda.

Saya sendiri sulit juga menjawab pertanyaan seperti ini. Pasalnya, saya sebenarnya tidak terlalu suka acara gosip-gosipan. Tapi sesekali saya lahap juga tayangan infotaintmen di televisi. Sebagai seorang pengajar di bidang komunikasi dan jurnalis, saya tentu tak ingin ketinggalan informasi di bidang apa pun, termasuk dunia selebritis. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on December 25, 2009 in entertaint

 

Rebutan Peluang Jadi PNS

berkas_cpns“Gak ikut ngelamar PNS Sat?” Begitu bunyi sebuah pesan pendek kuterima dari seorang teman satu kampus dulu. Tanpa perlu pikir panjang langsung kujawab,” nggak bos, msh blm ada panggilan jiwa”.
Ya begitulah, menjelang musim penerimaan Pegawai Ngeri, eh Negeri Sipil alias PNS ini, kesibukan sudah mulai terasa di sejumlah instansi, seperti kantor kelurahan bagi yang mau ngurus KTP, di kantor Disnaker bagi yang ngurus Kartu Kuning, dan di kantor pos bagi yang mau beli materai, serta di rumah-rumah paranormal bagi yang mau menggunakan “jalur khusus”.
Menjadi pegawai negeri tampaknya memang menjadi impian banyak anak muda di negara bernama Republik Indonesia ini. Ini wajar saja mengingat jadi PNS di Indonesia merupakan profesi yang paling ‘Mak Nyos’. Bagaimana tidak enak? Gaji dijamin pemerintah, hampir tiap tahun ada kenaikan, trus ada pula gaji ke-13, ada pensiunnya lagi. Soal kerja juga gak berat-berat amat. Masih ada waktu untuk nongkrong di kedai kopi bagi bapak-bapak, atau jemput anak sekolah bagi ibu-ibu PNS. Urusan disiplin gampang diatur asal dekat dengan pimpinan. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on October 18, 2009 in 1

 

Tags: ,

‘Public Enemy’ itu Bernama PLN

Kalau ada yang nanya, perusahaan apa yang paling sering dimaki oleh orang Riau? Saya berani bertaruh jawabannya pasti PT PLN. Saya bahkan berani taruhan potong telinga. Setidaknya, saya dan beberapa tetangga di perumahan tempat saya tinggal termasuk yang melakukannya setiap kali perusahaan negara tersebut memadamkan aliran listrik. Demikian juga sanak kerabat dan rekan-rekan saya, mereka kerap mengucapkan berbagai kecaman atas tindakan PLN yang semena-mena memadamkan listrik.

Inilah susahnya kalau listrik pengelolaannya dimonopoli oleh sebuah perusahaan. PLN memang memiliki kekuasaan yang absolut terhadap listrik di negeri ini. Dan lagi-lagi kita harus mengakui ungkapan Lord Acton yang mengatakan bahwa, “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut pasti akan korup”. Read the rest of this entry »

 
8 Comments

Posted by on October 12, 2009 in sudut pandang

 

Caleg Gila

Beberapa hari belakangan ini sejumlah media tampak rajin menyiarkan berita tentang persiapan sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menampung para calon anggota legislatif yang akan mengalami gangguan jiwa. Sejumlah RSJ di tanah air menyatakan sudah menyiapkan kamar khusus untuk merawat para caleg yang gagal meraih kursi legislatif.

Di RSJ Tampan Pekanbaru misalnya, kamar khusus seluas 8 X 10 meter dengan kapasitas daya tampung sebanyak 20 bed disiapkan untuk menanti para ‘tamu terhormat’ itu. Fasilitasnya juga agak berbeda dengan pasien lainnya, ibarat hotel, fasilitasnya tentu ala hotel berbintang, bukan kelas losmen atau wisma. Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on March 28, 2009 in 1

 

Ponari dan Kebodohan yang Tak Kunjung Usai

Orang Indonesia makin aneh bin ajaib. Di zaman yang sudah serba cyber kayak sekarang ini, masih saja keranjingan urusan supranatural. Yang tambah bikin kita ngurut dada (bukan remas dada lho, apalagi dada janda sebelah rumah), gara-gara urusan serba gak jelas itu, orang rela menyabung nyawa. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on February 18, 2009 in 1

 

Belajar dari Tragedi Zakat Pasuruan

www.detik.com

www.detik.com

Hati-hati membagi sedekah atau zakat kepada fakir miskin. Jika tidak, bukan manfaat yang didapat, tapi justru mudharat dan bencana yang datang. Hal inilah yang kini dialami H Syaikon, seorang pengusaha di Kota Pasuruan, Jawa Timur. Niat baiknya membagikan zakat kepada kaum fakir miskin berubah menjadi malapetaka.

Sesuai pengumuman yang dikeluarkan H Syaikon, Senin pagi (15/9) dirinya bermaksud menyerahkan zakat kepada fakir miskin di kediamannya. Informasi ini langsung menyebar dari mulut ke mulut. sekitar 5 ribu warga Kota Pasuruan dan sekitarnya pun mengantre pembagian uang zakat sebesar Rp 40 ribu yang dilakukan H Syaikon. Fakir miskin tersebut mengantre sejak pukul 04.00 WIB.

Jumlah warga yang mendatangi rumah H Syaikon jelas di luar dugaan. Mereka pun mulai desak-desakan dan saling dorong karena takut tak kebagian zakat. Ironisnya, selaku tuan rumah, H Syaikon tidak pula mempersiapkan sistem pembagian yang baik, selain itu ia juga tak melibatkan aparat keamanan setempat untuk mengawal pelaksanaan pembagian zakat. Akhirnya, acara pembagian zakat pun berakhir tragis dengan meninggalnya 21 orang akibat terjepit dan terinjak-injak. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on September 15, 2008 in humaniora

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.